Showing posts with label Sigi. Show all posts
Showing posts with label Sigi. Show all posts

Air Terjun Wera, Air Terjun Terbaik di Kabupaten Sigi

Wera Air Terjun
Air Terjun Wera kabupaten Sigi

     Air Terjun Wera. Air terjun ini berada di kawasan wisata wera tepatnya di lereng gunung Watusidae. Jika Anda warga kota Palu maupun Kabupaten Sigi pasti sudah tidak asing lagi dengan air terjun ini. Jaraknya sekitar 19 km dari arah selatan kota Palu, yaitu terletak di desa Bulumpewa, Kecamatan Dolo, kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah.

     Untuk menuju air terjun Wera ini Anda harus berjalan kaki sejauh 2 km dari tempat memarkirkan kendaraan melewati medan yang dominan batu-batuan menanjak. Jalanan berbatu dan menanjak tersebut terletak disepanjang tepian sungai yang arusnya cukup deras. Anda harus perlu berhati-hati demi keselamatan pendakian, karena bebatuannya cukup licin. Pastikan Anda memakai celana dan sandal gunung untuk mempermudah manuver Anda. Tentunya cukup letih bila anda belum terbiasa jalan menanjak. Namun tenang keletihan Anda akan terbayar, karena anda akan menikmati air terjun yang luar biasa menakjubkan.

Menikmati pesona Air Terjun Wera

Air Terjun Wera
Air Terjun Wera
     Air terjun wera merupakan air terjun yang terbagi menjadi dua undakan. Undakan yang atas sekitar 80 meter sementara yang bawah sekitar 7 meter. Jika Anda mendekati menuju air terjun utamanya, Anda akan merasakan percikan-percikan air yang terbawa oleh angin. Air terjun ini begitu tinggi dan deras hingga pancarannya pun dapat terbawa oleh angin.

     Menakjubkan bukan. Air terjun ini benar-benar air terjun terbaik yang pernah Kakarmand kunjungi. Lingkungan yang hijau dengan pepohonan-pepohonan besar dan menjulang tinggi. Air yang dingin dan jernih beserta oksigen yang sangat menyegarkan. Suara derasnya air berpadu dengan merdunya kicauan burung-burung di hutan yang masih terjaga. Air Terjun Wera, it's a paradise on earth.
Wera Air Terjun
Foto di Air Terjun Wera
Hmmmm....
Saat kakarmand buka file-file lama, kakarmand nemu foto itu.
Foto itu dijepret dengan teknik long exposure/ slow speed.
Itu foto lama saat Kakarmand masih sangat kurus. Hehehe...
Tentunya saat ini Kakarmand tidak sekurus itu lagi karena telah rajin berolahraga.

     Ok, sampai di sini dulu posting Kakarmand tentang  air terjun Wera. Jika Anda datang ke air terjun Wera, Anda tak boleh lengah. Selalu perhatikan keamanan demi keselamatan diri Anda dan teman-teman Anda. Dan jangan buang sampah sembarangan. Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak kaki, dan jangan bawa pulang apapun kecuali kenangan.

Sekian dan terimakasih. Terbaik memang!

Jembatan Kasubi, Kalukubula-Sunju-Binangga

Jembatan Kasubi
Jembatan Kalukubula Sunju Binangga (Kasubi)
Yuk kita tengok Jembatan Kasubi (Kalukubula-Sunju-Binangga) lebih dekat. Jembatan yang diresmikan pada Senin, 7 September 2015 oleh Gubernur Sulawesi Tengah Drs. H. Longki Djanggola ini terletak di desa Kalukubula, kabupaten Sigi, propinsi Sulawesi Tengah.

Kakarmand baru mengetahui jembatan ini saat mengikuti MTQ tingkat kabupaten Sigi di desa Kotapulu, kecamatn Dolo tanggal 10-15 November 2015. Waktu itu saya menjadi peserta dari kafilah kecamatan Marawola barat. Masyarakat di sana masih hangat-hangatnya membicarakan tentang jembatan Kasubi ini.
Jembatan Longki Djanggola
Prasasti jembatan Kasubi oleh Gubernur Sulawesi Tengah
Sudahkah Anda menelusuri jembatan Kasubi?
Jembatan Kasubi ini menghubungkan Desa Kalukubula Kecamatan Biromaru menuju Desa Sunju Kecamatan Marawola. Kemudian dari desa Sunju melalui jalan yang telah mulus beraspal terhubung lagi ke Desa Binangga Kecamatan Marawola.

Jembatan dan jalan ini sangat dirasakan manfaatnya dalam mengurangi jarak tempuh perjalanan dari yang sebelumnya. Jarak tempuh menjadi sangat singkat karena jembatan Kasubi. Dari sebelumnya jika dari Kecamatan Biromaru menuju Kecamatan Marawola biasanya dilalui melalui wilayah Kota Palu terlebih dahulu. Jalur ini juga direncanakan kedepannya menjadi penghubung outer ring road (jalan lingkar luar) dari Pantoloan, Kalukubula sampai ke Watusampu.

Jalan ini menghubungkan aktifitas ekonomi, sosial maupun budaya dalam masyarakat. Selain itu, untuk masyarakat di kecamatan Biromaru jalur Kasubi ini juga membuat jarak menuju Pariwisata Paralayang Mantantimali di kecamatan Marawola Barat menjadi lebih singkat.
Kalukubula Sunju Binangga
Pemandangan sawah di desa Sunju
Perjalanan dari kalukubula menuju binangga dilalui dengan pemandangan persawahan yang menyejukan pandangan mata. Di sebelah kanan dan kiri sepanjang jalan Anda akan menikmati pemandangan desa Sunju yang hijau. Namun jika Anda merupakan pengemudi kendaraan, jangan sampai keasikan menikmati pemandangan tanpa memperhatikan jalan kendaraan Anda.

Kembali kepada jembatan Kasubi yang memiliki panjang empat puluh lima meter dam lebar tujuh meter ini juga menjadi spot bermain dan rekreasi masyarakat sekitar. Saat sore hari jembatan ini ramai didatangi oleh anak-anak muda desa sebagai tempat berkumpul dan rekreasi. Mereka ada yang menaiki kendaraan seperti motor dan sepeda, namun ada pula yang berjalan santai sambil jogging. Pada kubangan tepian sungai pun menjadi tempat main dan berenang bagi anak-anak desa.

Nah, begitulah jembatan Kasubi. Alias Jembatan Kalukubula Sunju Binangga.
Untuk lebih memperjelas lagi, berikut lampiran foto-foto di jembatan Kasubi.


Foto Jembatan Kalukubula - Sunju - Binangga. Kasubi

mandi di sungai Kalukubula, Kasubi
Anak-anak desa mandi di sekitar jembatan Kasubi
tangga jembatan Kasubi
Anak-anak sedang menuruni tangga jembatan Kasubi
taman jembatan Kasubi
Jembatan menjadi tempat berkumpulnya muda mudi desa
jogging di jembatan kasubi
Masyarakat kini melakukan jogging sebagai gaya hidup sehat
pemandian wera dan dirgantara paralayang mantantimali
Tembus menuju wisata pemandian wera, dan dirgantara paralayang
Papan project pembangunan jalan
Papan proyek pembangunan jalan Binangga - Kalukubula
Jembatan Kasubi
Jembatan Kasubi, Kalukubula - Sunju - Binangga
Jembatan Kalukubula
Pemandangan sekitar Jembatan Kasubi sangat cocok buat berfoto ria

Sekian postingan Kakarmand tentang Jembatan Kasubi (Kalukubula - Sunju - Binangga). Bila ada tanggapan, jangan ragu unutuk mengisi form komentar di bawah. Terimakasih

Daftar Lengkap Kode Pos Sigi Sulawesi Tengah

Kodepos Sigi
Daftar Lengkap Kode Pos di Kabupaten Sigi

Daftar Lengkap Kode Pos Sigi

Inilah daftar lengkap kodepos Kabupaten Sigi propinsi Sulawesi Tengah. Kode pos Sigi di bawah ini dibagi atas tiap-tiap kecamatan maupun desa. Total ada lima belas kecamatan, yaitu Kecamatan Sigi Biromaru, Marawola, Marawola Barat, Kinovaro, Dolo, Dolo Barat, Dolo Selatan, Gumbasa, Kulawi, Kulawi Selatan, Palolo, Lindu, Nokilalaki, Tanambulava, dan Pipikoro. Semoga dapat membantu Anda dalam menemukan kode pos daerah, khususnya untuk desa-desa di Kabupaten Sigi.
Salam Kabupaten Sigi "Mareso Masagena"!


Kode Pos Sigi Biromaru

Berikut ini daftar kode pos Kecamatan Sigi Biromaru Kabupaten Sigi
Kode Pos Desa di Kecamatan Sigi Biromaru
1. Kodepos Bora 94364
2. Kodepos Jono Oge 94364
3. Kodepos Kalukubula 94364
4. Kodepos Lemba Palu 94364
5. Kodepos Lolu 94364
6. Kodepos Loru 94364
7. Kodepos Maranata 94364
8. Kodepos Mpanau 94364
9. Kodepos Ngata Baru 94364
10. Kodepos Oloboju 94364
11. Kodepos Pombeve 94364
12. Kodepos Sidera 94364
13. Kodepos Sidondo 94364
14. Kodepos Soulowe 94364
15. Kodepos Vatunonju 94364

Kode Pos Marawola

Berikut ini daftar kode pos Kecamatan Marawola Kabupaten Sigi
Kode Pos Desa di Kecamatan Marawola
1. Kodepos Baliase 94362
2. Kodepos Beka 94362
3. Kodepos Binangga 94362
4. Kodepos Bomba 94362
5. Kodepos Boya Baliase 94362
6. Kodepos Lebanu 94362
7. Kodepos Sibedi 94362
8. Kodepos Sunju 94362
9. Kodepos Tinggede 94362
10. Kodepos Tinggede Selatan 94362

Kode Pos Marawola Barat

Berikut ini daftar kode pos Kecamatan Marawola Barat Kabupaten Sigi
Kode Pos Desa di Kecamatan Marawola Barat
1. Kodepos Dombu 94362
2. Kodepos Lewara 94362
3. Kodepos Lumbulama 94362
4. Kodepos Malino 94362
5. Kodepos Mantantimali 94362
6. Kodepos Ongulara 94362
7. Kodepos Ongulero 94362
8. Kodepos Panesibaja 94362
9. Kodepos Popolobia 94362
10. Kodepos Soi 94362
11. Kodepos Taipanggabe 94362
12. Kodepos Wayu 94362
13. Kodepos Wiopore 94362
14. Kodepos Wugaga 94362

Kode Pos Kinovaro

Berikut ini daftar kode pos Kecamatan Kunovoro Kabupaten Sigi
Kode Pos Desa di Kecamatan Kinovaro
1. Kodepos Balane 94362
2. Kodepos Bolobia 94362
3. Kodepos Daenggune 94362
4. Kodepos Kalora 94362
5. Kodepos Kanuna 94362
6. Kodepos Porame 94362
7. Kodepos Rondingo 94362
8. Kodepos Uwemanje 94362

Kode Pos Dolo

Berikut ini daftar kode pos Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi
Kode Pos Desa di Kecamatan Dolo
1. Kodepos Kabobona 94361
2. Kodepos Karawana 94361
3. Kodepos Kotapulu 94361
4. Kodepos Kotarindau 94361
5. Kodepos Langaleso 94361
6. Kodepos Maku 94361
7. Kodepos Potoya 94361
8. Kodepos Soulowe 94361
9. Kodepos Tulo 94361
10. Kodepos Vatubula 94361
11. Kodepos Vaturalele 94361

Kode Pos Dolo Barat

Berikut ini daftar kode pos Kecamatan Dolo Barat Kabupaten Sigi
Kode Pos Desa di Kecamatan Dolo Barat
1. Kodepos Balamao 94361
2. Kodepos Bulumpeva 94361
3. Kodepos Bobo 94361
4. Kodepos Kaleke 94361
5. Kodepos Kulukutinggu 94361
6. Kodepos Mantikole 94361
7. Kodepos Pesaku 94361
8. Kodepos Pevunu 94361
9. Kodepos Rarampadende 94361
10. Kodepos Sibonu 94361

Kode Pos Dolo Selatan

Berikut ini daftar kode pos Kecamatan Dolo Selatan Kabupaten Sigi
Kode Pos Desa di Kecamatan Dolo Selatan
1. Kodepos Balongga 94361
2. Kodepos Baluase 94361
3. Kodepos Bangga 94361
4. Kodepos Bulubete 94361
5. Kodepos Jono 94361
6. Kodepos Pulu 94361
7. Kodepos Rogo 94361
8. Kodepos Sambo 94361
9. Kodepos Walatana 94361
10. Kodepos Wisolo 94361

Kode Pos Gumbasa

Berikut ini daftar kode pos Kecamatan Gumbasa Kabupaten Sigi
Kode Pos Desa di Kecamatan Gumbasa
1. Kodepos Kalawara 94364
2. Kodepos Omu 94364
3. Kodepos Pakuli 94364
4. Kodepos Pandere 94364
5. Kodepos Simoro 94364
6. Kodepos Tuva 94364

Kode Pos Kulawi

Berikut ini daftar kode pos Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi
Kode Pos Desa di Kecamatan Kulawi
1. Kodepos Banggaiba 94363
2. Kodepos Bolodangko 94363
3. Kodepos Bolapopu 94363
4. Kodepos Lonca 94363
5. Kodepos Mataue 94363
6. Kodepos Namo 94363
7. Kodepos Rantewulu 94363
8. Kodepos Salua 94363
9. Kodepos Siwongi 94363
10. Kodepos Sungku 94363
11. Kodepos Tangkulowi 94363
12. Kodepos Toro 94363
13. Kodepos Towulu 94363
14. Kodepos Winatu 94363

Kode Pos Kulawi Selatan

Berikut ini daftar kode pos Kecamatan Kulawi Selatan Kabupaten Sigi
Kode Pos Desa di Kecamatan Kulawi Selatan
1. Kodepos Gimpu 94363
2. Kodepos Lawua 94363
3. Kodepos Lampelero 94363
4. Kodepos Moa 94363
5. Kodepos O'o 94363
6. Kodepos Palamaku 94363
7. Kodepos Palimakujawa 94363
8. Kodepos Salutome 94363
9. Kodepos Tompi Bugis 94363
10. Kodepos Tomua 94363
11. Kodepos Vangka 94363
12. Kodepos Vatukilo 94363

Kode Pos Palolo

Berikut ini daftar kode pos Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi
Kode Pos Desa di Kecamatan Palolo
1. Kodepos Ampera 94364
2. Kodepos Bahagia 94364
3. Kodepos Baku Bakulu 94364
4. Kodepos Berdikari 94364
5. Kodepos Bobo 94364
6. Kodepos Bunga 94364
7. Kodepos Kapiroe 94364
8. Kodepos Lemban Tongoa 94364
9. Kodepos Makmur 94364
10. Kodepos Patimbe 94364
11. Kodepos Rahmat 94364
12. Kodepos Ranteleda 94364
13. Kodepos Rejeki 94364
14. Kodepos Rejeki 94364
15. Kodepos Sejahtera 94364
16. Kodepos Sigimpu 94364
17. Kodepos Sintuvu 94364
18. Kodepos Tana Harapan 94364
19. Kodepos Tongoa 94364
20. Kodepos Uenuni 94364

Kode Pos Lindu

Berikut ini daftar kode pos Kecamatan Lindu Kabupaten Sigi
Kode Pos Desa di Kecamatan Lindu
1. Kodepos Anca 94363
2. Kodepos Langko 94363
3. Kodepos Puroo 94363
4. Kodepos Tomado 94363

Kode Pos Nokilalaki

Berikut ini daftar kode pos Kecamatan Nokilalaki Kabupaten Sigi
Kode Pos Desa di Kecamatan Nokilalaki
1. Kodepos Bulili 94364
2. Kodepos Kadidia 94364
3. Kodepos Kamarora 94364
4. Kodepos Sopu 94364

Kode Pos Tanambulava

Berikut ini daftar kode pos Kecamatan Tanambulava Kabupaten Sigi
Kode Pos Desa di Kecamatan Tanambulava
1. Kodepos Lambara 94364
2. Kodepos Sibalaya Selatan 94364
3. Kodepos Sibalaya Utara 94364
4. Kodepos Sibowi 94364

Kode Pos Pipikoro

Berikut ini daftar kode pos Kecamatan Pipikoro Kabupaten Sigi
Kode Pos Desa di Kecamatan Pipikoro
1. Kodepos Banasu 94112
2. Kodepos Kalamanta 94112
3. Kodepos Kantewu 94112
4. Kodepos Koja 94112
5. Kodepos Lawe 94112
6. Kodepos Lona Basa 94112
7. Kodepos Mamu 94112
8. Kodepos Mapai 94112
9. Kodepos Morui 94112
10. Kodepos Onu 94112
11. Kodepos Parelea 94112
12. Kodepos KPeana 94112

Sekian Daftar Lengkap Kode Pos Sigi Propinsi Sulawesi Tengah. Semoga Bermanfaat

Topesino dan Sekolah Daun. Cerita Kondisi Pendidikan di Balik Awan

sekolah daun baru
Sekolah Daun Topesino (Baru)
Hallo! sahabat blog. Kali ini Kakarmand hanya ingin sekedar bercerita tentang Topesino dan Sekolah Daunnya.

     Topesino merupakan sebuah dusun di desa mantikole, kabupaten Sigi, propinsi Sulawesi Tengah. Dusun Topesino letaknya sangat jauh di atas pegunungan. Telah banyak yang ketahui bahwa Topesino dahulu memiliki sekolah daun. Sekolah Dasar yang bangunannya sangat memprihatinkan. Berlantai tanah, bertiang bambu, dan beratap dedaunan alang-alang.

      Sekolah daun ini memiliki sosok guru yang hebat. Dialah Ibu Indrawati dan Bapak Arjhon. Kedua sosok guru yang selalu bekerja keras memberikan pendidikan kepada anak-anak sekolah daun. Sosok guru yang sedia naik dan turun gunung kapanpun demi sebuah cita-cita yang mulia.
    Ibu Indrawati selalu memperjuangkan eksistensi sekolah daun kepada pemerintah setempat. Namun dahulu bantuan tidak kunjung datang. Harapan mereka adalah agar sekolah daun dapat seperti sekolah-sekolah lainnya. Memiliki bangunan yang kokoh dan nyaman untuk digunakan belajar. 
sekolah daun lama
Sekolah Daun Topesino (Lama)
     Dahulu, Kondisi memprihatinkan ini memancing sebuah kelompok peliput film dokumenter menjadikan sekolah daun Topesino sebagai objek dalam perlombaan produksi film dokumenter. Kelompok peliput ini berhasil memenangkan kontes dengan hadiah besar. Kompensasi telah mereka berikan kepada sekolah daun. Akan tetapi kompensasi tersebut masih kurang untuk merubah kondisi sekolah daun yang memprihatinkan. Menurut cerita Ibu Indrawati film dokumenter Sekolah Daun tersebut sampai terekspos ke media internasional di Australia. 
    Lambat laun mulailah Topesino terekspos oleh media lokal. Setelah terekspos oleh media lokal maupun nasional, mulailah berdatangan bantuan dari berbagai pihak. Entah itu pemerintah setempat, media lokal, maupun ormas-ormas yang ada di Sulawesi Tengah.

Nah, itulah sedikit cerita Kakarmand mengenai sekolah daun pada masa lalu.

Kakarmand bersama teman-teman mahasiswa arsitektur untad, pada tahun 2010 yang lalu juga ikut memberikan bantuan kepada sekolah daun. Ini terjadi dalam rangka kegiatan Kemah Bakti Desa yang merupakan program kerja Himpunan kami pada masa itu. Mahasiswa arsitektur angkatan 2010 lah yang menjadi panitia dalam kegiatan ini.
Baca postingan kakarmand yang ini:  KBD TOPESINO 2010

     Waktu terus berlalu. Banyak perubahan yang terjadi pada sekolah daun setelah bantuan berdatangan. Ibu Indrawati juga telah mendapatkan penghargaan sebagai salah satu sosok kartini Indonesia dalam bidang pendidikan. Sangat luar biasa dampak yang mereka rasakan. 
    Sekolah daun kini menjadi kelas jarak jauh SD Inpres Mantikole. Sekolah daun pun dipindahkan tempatnya, dari yang dahulu terletak di tengah-tengah pemukiman dusun Topesino, dan sekarang berada semakin ke puncak pegunungan di Dusun Topesino. Gedung sekolahnya juga baru. Untuk sementara ini memiliki tiga buah ruang. Dua ruang kelas, dan satu ruang kantor. Dinding dan Lantai sekolahnya pun telah terbuat dari Papan. Pada jendelanya memiliki kaca, dan atapnya pun menggunakan material seng. Buku-buku pelajaran juga tersedia.
sekolah rusak
tiang sekolah daun telah miring 
     Namun, perubahan ini masih menimbulakan masalah-masalah baru. Tak selang beberapa lama gedung sekolah daun yang baru tersebut miring. Tiang-tiang, dinding, dan lantai sekolah kini telah miring. Resiko akan ambruk pun menghantui guru dan murid-murid saat ketika melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Ketika angin kencang terkadang kegiatan belajar dilakukan di luar gedung.
sekolah miring
kondisi tiang sekolah daun topesino
    Singkat cerita. Nah, sampai di sini Ibu Indrawati menghubungi seorang teman kami dan datang ke Sekretariat Himpunan kami. Kemudian beliau mengadu ke kami (Mahasiswa Arsitektur UNTAD), bahwa sekolah daun yang baru telah miring. Menurut beliau gedung sekolah miring karena tertiup angin barat yang cukup kuat. Beliau menginginkan kami dapat kembali mendaki ke Topesino untuk membantu. Atas alasan ituah kami memutuskan untuk kembali membantu pada kegiatan Kemah Bakti Desa 2012.
    Beliau meminta kami untuk menanamkan bibit-bibit pohon besar di sekitar sekolah daun. Diharapkan bibit pohon ini akan tumbuh dan menjadi pohon besar sebagai filtrasi angin kencang. Angin yang kencang tersebut kini telah memiringkan gedung sekolah daun yang konstruksinya sedikit terlihat asal-asalan. Entah mengapa gedung sekolah hasil bantuan pemerintah ini masih terkesan setengah hati dalam pelaksanaan pembangunannya.

TOKOH-TOKOH SEKOLAH DAUN

guru sekolah daun
Ibu Indrawati
guru sekolah daun
Bapak Arjhon
guru sekolah daun

Perjalananku dari Palu ke Kulawi

desa Toro Kulawi
Rumah Adat Lobo Desa Toro

Sebelumnya ku pernah menceritakan perjalananku dari Palu ke Parigi, dan kini ku akan menceritakan perjalananku dari Palu ke Kulawi.
     Kulawi merupakan nama sebuah kecamatan di wilayah kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Kulawi terletak jauh di sebelah tenggara kota Palu. Lembah kulawi dikelilingi oleh taman nasional Lore LinduKelestarian flora dan fauna di daerah ini sangat terjaga. Kearifan adat masyarakat ikut memberi andil terhadap lingkungan yang asri. Hutan-hutan yang masih terjaga turut memberikan suhu udara yang dingin dan sejuk.
     Terbayang-bayang akan kelestarian hutan dan adat masyarakat Kulawi, perjalanan aku mulai. Perjalanan ini tidak kulakukan seorang diri, melainkan bersama rombongan sesama mahasiswa arsitektur Universitas Tadulako dalam rangka Studi Ekskursi Arsitektur Vernakular Rumah Adat Lobo.
Mahasiswa UNTAD
Rombongan Mahasiswa Arsitektur Universitas Tadulako

     Jumlah kami yang mengikuti kegiatan ini kurang lebih lima puluh orang. Ketua panitia kegiatan membagi kami menjadi dua rombongan. Satu rombongan pengendara-pengendara motor, dan satu lagi rombongan yang dibagi untuk menumpangi dua buah mobil. Setelah melakukan briefing dan berbenah-benah, kami siap untuk berangkat. Kemudian kendaraan yang kami tumpangi pun beranjak dari tempatnya.
     Keberangkatan ku bersama teman-teman sempat mendapat masalah. Belum jauh dari tempat kami memulai perjalanan, mobil yang ku tumpangi mogok sebab kehabisan bahan bakar. Masalah ini cepat kami tangani sehingga perjalanan dapat kami lanjutkan.
     Jarak demi jarak telah di tempuh, banyak daerah-daerah yang telah terlewati, entah daerah apa semua namanya. Saat melewati kecamatan Gumbasa terlihat pemandangan bendungan air yang tertata rapi. Bendungan itu cukup besar dengan sungai yang mengalir indah untuk mengairi sawah-sawah hijau yang terbentang luas. Wah.. menakjubkan pesona alam ini.

Di tengah perjalanan, langit mulai gelap pertanda hujan akan turun. 
     Ternyata benar, selang beberapa waktu hujan pun turun. Rombongan teman kami yang menaiki sepeda motor berhenti dan berteduh. Mobil open yang ku tumpangi tetap tidak berhenti. Aku dan teman-temanku yang menaiki mobil open basah kuyup namun kami tetap bersenda gurau dan tertawa bersama. Ha ha ha, senangnya merasakan momen ini.
     Perjalanan semakin jauh, jalan mulai menanjak berkelak-kelok dan suhu pun berubah dingin. Aku memperhatikan jalan, pohon, gunung, dan jurang di sekitar ku. Jalannya cukup sempit, banyak lubang, dan sering terjadi longsoran tanah dan batuan gunung. 
     Jalan yang buruk membuat rute perjalanan ini sangat berbahaya. Sempat kami melihat pengendara motor yang berboncengan nyaris terjun bebas ke dalam jurang. Pengendara itu dari jalur berlawanan terhadap arah kami, tepat setelah tikungan ke kanan mereka mendapat jalan yang runtuh ke jurang. Beruntung pengendara itu berhasil melakukan pengereman mendadak. Kejadian itu sangat mengejutkan kami yang melihatnya. Peristiwa pengendara motor tersebut menjadi bahan cerita kami selanjutnya. 
     Tak terasa kami sudah semakin tinggi di atas pegunungan. Aku telah melihat pintu gerbang yang menuju objek wisata danau Lindu. Sayangnya tidak ada agenda wisata dalam studi kami ini. Selanjutnya aku juga melihat pohon pinus berjajar, ladang jagung tertata, bunga-bunga lembab khas pegunungan yang indah, kebun-kebun tanaman cokelat, dan sawah menyerupai karpet hijau di lembah. Wah... Cukup indah menurut ku, sebab pemandangan-pemandangan seperti ini tidak ku lihat setiap hari.
Sawah Desa Toro
Pemandangan sawah pedesaan

     Hari mulai senja, kami melihat lembah Kulawi dari atas bukit, pertanda perjalanan hampir berakhir. Namun setelah tiba di Kulawi, perjalanan masih tetap berlanjut. Berikutnya kami akan menuju desa Toro yang merupakan daerah tujuan studi kami.
     Matahari telah terbenam, kami tak kunjung tiba di desa Toro. Suka duka perjalanan ini bersama kami rasakan. Seketika mobil tak dapat menanjak di tanjakan yang panjang. Bersama kami turun untuk mengurangi beban pada mobil. Aku bersama beberapa teman berjalan kaki mengangkat barang-barang menaiki tanjakan sedangkan yang lainnya membantu mendorong mobil. Lingkungan di sekeliling kami sangat gelap, hanya ada cahaya dari lampu mobil dan telepon-telepon genggam kami. Mobil pun berhasil menaiki tanjakan, kami juga kembali menaiki mobil. Mobil dapat kembali berjalan normal menempuh jarak demi jarak.
     Hore! kami pun memasuki gerbang desa Toro. Meski dalam kegelapan saya masih bisa melihat gedung Storma di sebelah kanan. Gedung Storma merupakan tempat penginapan para peneliti. Namun kami tidak tinggal di Storma sebab telah ada kelompok peneliti yang lebih dahulu menempatinya. Kami akan tinggal di rumah-rumah warga yang juga menyediakan penginapan.
diskusi desa Toro
Diskusi tentang Desa Toro
     
   Mobil berhenti pertanda perjalanan berakhir. Kemudian kami turun dan menuju ke rumah warga yang diterangi cahaya pelita. Rombongan kami disambut tuan rumah dengan baik.

Sekian cerita perjalanan kami dari Palu ke Kulawi.
Dalam kunjungan ini #kakarmand jadi tau cerita rakyat tentang sejarah terbentuknya Ngata Toro.


(oleh, M. ARMAND ZURHAAR | kakarmand.blogspot.com)

Sekolah Daun, Dusun di Atas Awan Topesino

sekolah daun
Topesino, Sekolah Daun

    Topesino adalah sebuah dusun yang terletak di lereng Gunung Gawalise, Kabupaten Sigi, Propinsi Sulawesi TengahKehidupan masyarakat di dusun ini sangatlah bersahaja dengan kondisi yang seluruhnya masih di bawah garis kemiskinan.  Rumah tinggal mereka sangatlah sederhana, yang hanya terbuat dari berbagai jenis pelepah daun bahkan ilalang. Tinggal tersebar, berpencar di lereng-lereng dan di balik-balik bukit.

    Untuk mencapai dusun ini hanya dapat ditempuh berjalan kaki dan mendaki di atas kemiringan empat puluh lima derajat dalam waktu tempuh lima jam yang sangat melelahkan. Masyarakat yang tinggal di dusun ini adalah masyarakat suku Kaili sub etnis Kaili Inde. Di antara jumlah penduduk sebanyak 175 jiwa dari 48 keluarga, terdapat 65 jiwa anak-anak berusia sekolah.

    Pada tahun 2007 atas upaya beberapa orang pemuda dari dusun Topesino dan desa Mantikole dibangunlah sebuah sekolah sebagai tempat belajar untuk anak-anak dusun ini. Bangunan yang sangat sederhana mereka sebut dengan Sekolah Daun. Sebagaimana pada umumnya bangunan yang terdapat pada dusun ini sekolah daun ini pun terdiri dari bermacam-macam daun dan pelepah, serta rumput ilalang. Kondisi di dalam sekolah atau kelas pun  sangat memprihatinkan. Meja sebagai tempat menulis hanya terbuat dari dua buah lembar papan yang ditopang dengan kayu, itupun hanya bisa digunakan untuk beberapa orang anak saja. Anak-anak lainnya harus duduk bergerombol dan menumpuk di atas balai-balai yang terbuat dari belahan bambu dan pelepah daun. 

    Melihat kondisi mereka sebagai anak bangsa, mungkinkah menyadarkan kita bahwa masih banyak anak-anak saudara-saudara kita yang belum mendapat kesempatan mengenyam pendidikan dengan fasilitas pantas, di tengah berlombanya sekolah-sekolah di kota untuk sekedar mendapat sebutan sekolah bertaraf internasional. 

    Inilah Sekolah Daun dusun di atas awan Topesino, dalam keterbatasan, ketertinggalan, dan kepapaan mereka tetap mengejar dan berusaha menemukan makna pembelajaran untuk mempersiapkan diri sebagai anak pewaris bangsa, di tengah gencarnya kasus korupsi dan hingar-bingar negeri yang sibuk membangun politik.  

VIDEO TVRI "Sekolah Daun, Topesino"

 
sumber naskah dan video: @ TVRI SULTENG 
foto oleh: M. Armand Zurhaar

NGINAP Arsitektur 2010 di Sekolah Daun

foto bersama di sekolah daun dusun topesino
     Pada tanggal 20-21 November 2010, Himpunan Mahasiswa Arsitektur Tadulako mengadakan kegiatan NGINAP ARSITEKTUR 2010 atau yang biasa juga disebut Kemah Bakti Desa. Panitia dan peserta kegiatan ini yaitu mahasiswa arsitektur Untad angkatan 2010. Lokasi kegiatan tepatnya di Dusun Topesino, Desa Mantikole, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi.

Latar Belakang Sejarah Desa Watunonju, Sulteng

sulawesi tengah watunonju megalithikum
Gambar lumpang batu megalitikum
     Desa Watunonju terletak di Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Penduduk asli Watunonju berasal dari Sigimpu (benar-benar Sigi) yaitu suatu daerah di bagian Palolo sekitar 28 km dari Watunonju. 

     Dahulu daerah Watunonju merupakan hutan dan ketika itu daerah watunonju belum dihuni oleh manusia. Manusia zaman itu hidup berkelompok dan selalu tinggal berpindah-pindah, tetapi ketika telah tumbuh pengetahuan tentang bercocok tanam mereka umumnya tinggal di daerah pegunungan.

     Kelompok manusia yang akan menjadi penduduk Watunonju adalah suatu kelompok yang bernamakan Hilonga. Mereka hidup di daerah Sigimpu. Pekerjaan mereka yaitu berburu binatang serta bercocok tanam.

     Sebagai kebiasaan setelah panen, mereka mengadakan pesta syukuran yang bernama Movunja (pesta panen). Kemudian untuk kelengkapan acara, sebelum memulai pesta mereka berburu binatang sampai ke bukit yang banyak batu berlubang, menyerupai lesung. Ketika mereka ingin memulai pesta syukuran terjadi bencana banjir karena terjadinya semburan lumpur dari dalam tanah. Banjir itu pun membuat genangan air yang luas dan disebut danau Ranotiko (sekarang ini, danau itu telah menjadi lembah). Bencana itu banyak memakan korban jiwa. Beruntungnya orang yang tidak mengikuti pesta itu selamat dari bencana. Menurut hasil penelitian, orang-orang yang selamat segera melarikan diri ke daerah Lindu, daerah Palolo, daerah Bodi Lemontasi, Vatung Gede dan ada juga yang lari menuju perbukitan yang semula mereka temukan ketika berburu (daerah Watunonju).

     Orang-orang dari kelompok Hilonga yang lari ke perbukitan itu (daerah Watunonju) mengadakan upacara adat yang mereka sebut Mampasulemanu. Upacara itu bertujuan untuk mengetahui tentang masalah layak atau tidak layak mereka tinggal menetap di Watunonju. Upacara itu dipimpin oleh tetua adat mereka, dan hasil akhirnya yaitu mereka layak tinggal di daerah itu.

     Seluruh daerah itu awalnya merupakan hutan, akan tetapi karena mereka tinggal kini separuh dari hutan itu merupakan tempat pemukiman mereka. Daerah itupun mereka namakan Watunonju (bahasa Suku Kaili yang berarti lumpang batu) kerena banyak mereka temukan lumpang batu atau batu yang berlubang. Akhirnya mereka merupakan cikal bakal penduduk Watunonju.

Penelitian-penelitian lumpang batu di Watunonju

taman purbakala watunonju sulawesi tengah
Taman Purbakala Watunonju
     Lumpang batu di Watunonju, pertama kali diteliti oleh dua orang ilmuan sekaligus misioner Belanda yang sempat mengkristenkan Sulawesi Tengah terutama di Kabupaten Poso yaitu ketika Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Mereka adalah Albert Qruit dan Adrian. Setelah mereka mengajarkan agama Kristen di seluruh Poso mereka lalu mengajarkan agama Kristen di Palu. Setelah itu ia meneruskan misinya ke daerah Sigi Biromaru. Namun misi mereka sangat ditentang oleh Raja Karanjalemba yang mempunyai wibawa dan pengaruh yang sangat kuat. Dua orang misioner tersebut pun pergi dari Watunonju karena keberanian Raja Karanjalemba. Tetapi Albert Qruit dan Adrian pergi tidak dengan tangan kosong, mereka sempat mengadakan penelitian yang pertama kali terhadap peninggalan arkeolog di daerah Watunonju yang berada di Kecamatan Sigi Biromaru tersebut yaitu penelitian terhadap lumpang batu pada tahun 1898 Masehi.

     Khusus orang Sulawesi Tengah yang pertama kali meneliti adalah Masyudin Masyuda (seorang budayawan Sulawesi Tengah) pada tahun 1972.

     Peneliti yang kedua yaitu Dr. Herry Sukendar pada tahun 1975. Ia menamukan empat belas buah lumpang batu. Dia memelihara batu-batu tersebut dengan membuat lembaga kebudayaan di Watunonju pada tahun 1978 dan dikembangkan lagi tahun 1979. Tahun 1983 Desa Watunonju pun diresimikan oleh Hariyati Subagyo (mentri sosial saat itu) sebagai suatu objek sejarah.

     Sejak Desa Watunonju menjadi suatu objek sejarah yang resmi, saat itu pula mulai berdatanganlah peneliti-peneliti yang lain. Salah satu contohnya antara lain para pelajar yang ingin menyelesaikan materi mata pelajaran sejarah di sekolah.

Semoga bermanfaat 
(narasumber: Tim Guru Sejarah SMA Negeri 3 Palu)
(tulisan dan gambar, oleh: M. Armand Zurhaar | kakarmand.blogspot.com)