Chelsea FC
| Kakarmand © 2012   

Kamis, 03 Maret 2011

Perjalananku dari Palu ke Parigi

     Perjalananku dari Palu ke Parigi, seperti itulah saya menyebutnya. Parigi Moutong merupakan salah satu kabupaten di Sulawesi Tengah, berjarak kurang lebih 70km dari Tawaeli Palu Utara. Perjalanan ini kulakukan tanpa persiapan maupun rencana sama sekali. Perjalananku kali ini termasuk nekat, sedikit berbahaya, medan jalan yang mendaki, berliku, licin dan sempit yang baru pertama kali mengunakan Skuter Matik 125cc saya.

jalan gunung parigi

      Awalnya saya sedang nongkrong tidak jelas di kampus. Karena perasaan sumpek saya kemudian beranjak dan memutuskan untuk, jalan-jalan, berkendara, mencari pemandangan alam di sekitar kotaku yang belum pernah saya jamah. Berharap dengan jalan-jalan ini dapat menghilangkan rasa sumpek di hati. Saya memikirkan satu tempat yang bagus kutujui, yaitu kampung dan pelabuhan di kelurahan Wani Palu Utara.

     Dari kampus UNTAD saya memulai perjalanan saya. Dengan duduk santai mengendarai skuter matik, saya menikmati sensai berkendara. Sekitar lima belas menit berkendara, saya sampai di kelurahan Tawaeli dan berhenti di perempatan lampu lalu lintas. Dalam perhentian saya melirik arah kanan, yaitu arah trans menuju kabupaten Parigi Moutong. 
Aha! dengan sekejap kulupakan tujuan awalku ke Wani dan berbelok arah ke jalan trans menuju Kabupaten Parigi Moutong (Parimo). Saya berniat untuk menempuh seperenam perjalanan saja, namun hasrat berkendara ini membawaku berkendara terus, dan terus. 

     Selama perjalanan, saya menikmati pemandangan alam berupa pepohonan hutan, menikmati sensasi jalan berkelok-kelok. Jalan berkabut, lembab dan licin, suhu Udara cukup rendah ketika mencapai ketinggian yang begitu tinggi. 

     Di suatu tempat saya berhenti untuk memeriksa kendaraan agar menjamin keselamatan saya ketika melewati jalan yang licin. Ternyata saya berhenti di dekat jembatan Wentira (Uventira). Lokasi ini diketahui masyarakat sebagai tempat terdapatnya kerajaan besar mahkluk halus. Lokasi tersebut sangat angker, jadi saya tidak memotret pemandangan indah aliran air yang melalui jembatan di Lokasi tersebut.

kebun kopi pemandangan

     Perjalanan kulanjutkan, suhu semakin dingin ternyata saya sudah tiba di lokasi Kebun Kopi. Seorang anak SD yang baru pulang sekolah meminta tumpangan untuk menuju rumahnya. Aku berhenti dan memberinya tumpangan. Nama anak itu Renaldy, rumahnya di gerbang perbatasan wilayah Parigi tepat di samping Pos Penjagaan Polisi Lalu Lintas (POLANTAS). Saya menurunkannya di sana.

      Kemudian perjalananku kulanjutkan. Di sekitar jalan banyak pemandangan alam yang dapat dinikmati, salah satu yang begitu indah yaitu pemandangan kebun-kebun sayur yang terletak di kemiringan gunung berkabut.  
     Perjalanan yang telah lama mendaki, berangsur menurun. Udara yang tadinya dingin, berangsur hangat. Benar-benar sensasi yang menghilangkan sumpek dan peat di hati. Dari atas gunung ku melihat pemandangan laut pantai timur dan menara-menara pemancar yang berdiri tegak, itu berarti tidak lama lagi aku akan menjumpai dataran. Hal itu semakin menambah semangatku berkendara.

pemandangan pantai

      Akhirnya saya telah tiba di Kecamatan Toboli Kabupaten Parigi Moutong. Di sana kutemui pertigaan pertama, saya memilih belok ke keri. Saya beristirahat sejenak di pantai pasir putih Uwingalajo. Sembari sms-an, dan memotret pemandangan alami. Setelah itu, saya pun kembali kepertigaan sebelumnya dan terus menuju kantor Bupati Parigi Moutong. Banyak kenangan di tempat ini ketika tahun 2007 perkemahan dan lomba-lomba Palang Merah Remaja dibuka di alun-alun Kantor Bupati. Kenangan itu sangat menginpirasiku untuk berangkat ke Kantor Bupati.

pemandangan masjid parigi

      Di sana saya berhenti, memarkirkan kendaraanku dan menuju Mushola untuk melaksanakan sholat Zuhur. Setelah itu, saya membaca sambil duduk bersandar sembari melepaskan lelah.Saya melihat Kantor Bupati ini cukup megah. Saya berniat untuk memotretnya dari berbagai sudut. Tetapi sayangnya Hanphone saya LowBatt, saya pun tak membawa kamera digital. Terpaksa saya melewatkan, tidak memotret pemandangan indah lainnya di perjalanan. Namun tak apalah perjalanan ini sudah mengilangkan penat di hatiku. ^^

kantor bupati parigi

      Aku pun bergegas pergi berkeliling melihat-lihat kompleks perkantoran dan kompleks-kopleks perumahan di Parigi. Saya melihat pembangunan di Kabupaten ini tidak secepat pembangunan di Palu. Namun perbedaan itulah yang ingin aku lihat, kalau sama seperti Palu untuk apa saya jalan-jalan kemari. ^^
Hari sudah sore, aku pun melakukan perjalanan pulang ke Palu. Sekian sudah, cerita pengalaman Perjalanku dari Palu ke Parigi. ^^
 

6 komentar:

Anonim mengatakan...

matamua cook

Anonim mengatakan...

uwentira emng katanya terknal angker ya bro?sayang hanya dkit potonya disitu,penasaran.btw,ngapain takut?kita hanya takut oleh Allah SWWT.hiup mati di tangan dia

M. Armand Zurhaar mengatakan...

@Anonim2
Astagfirullah.. saya hilaf. iya semestinya saya tidak usah takut. walaupun sebenarnya bukan sepenuhnya takut, namun saya hanya tidak ingin dalam kamera saya muncul penampakan yang tidak ku inginkan.
Iya Wentira terkenal angker. Banyak yg telah membuktikannya. Banyak juga cerita-cerita angkernya yang telah beredar.

Iya, fotonya hanya sedikit, soalnya perjalanku ga pake persiapan *hanya pergi spontan.
Terimakasih atas komentar Anda.

syamba7576 mengatakan...

Jembatan uwentira yv mana yach.. Kira2 km brp dr taweli apa yg pas tikungan itu yah.. Soalnya aku sering juga naik kendaraan palu- parigi tp asli nggak tau... Dan aku jg bkn org asli palu cm dpt jodoh org palu... Thx u

dessi kristiyani mengatakan...

andai sy pny kesempatan jln" k Palu...
indahkah pemandangn disana??

dessi kristiyani mengatakan...

dari ceritanya..sy jadi pingin jln" ke Palu...
semoga ada kesempatan..aamiin...^^

Poskan Komentar

Jangan lupa tinggalkan jejak Anda.
Berilah komentar, masukan, atau teguran walau sepatah kata.
Agar saya dapat mengenal Anda. Terima Kasih.